kamilah huruf-huruf yang tergoda
satukan kami dalam puisimu
Selasa, 18 Maret 2008
Kamis, 28 Februari 2008
puisi-puisiku
garis waktu mengayuh patah
rangkaian garis waktu ini makin susut
jalinan tahun dan bulan pun mengusut
demam demikian remuk
mengeja nama hari
berkali kali
aku tak pahami babak-babak ini, kekasih
aksara nasib kian kusut
aku pemain baru yang buta
mencuri tongkat
dari salah satu tulang di rusukmu
tetap saja mengayuh payah
rasa mau kupatahkan saja
desember 2007
kutanam hati di pemakaman
di pemakaman, kutanam hati dalam-dalam
bersama rindu yang kini dipendam
di bawah tanah galian
di parit batu
bilangan kehilangan menelisik helai-helai rambut
diguyur hujan sedemikian
selusin rusuh negri yang ngeri kucatat pada hujan
berjatuhan di sudut mendung
tak kan ada gaduh itu lagi
malam-malam beku
kopi hambar
roti tawar
lagu sumbang
rupa-rupa kehilangan senyum
keranda dibawa pulang
peziarah telah pula menyisakan jejak
gelombang yasin perlahan menepi
menyerah pada nisan yang selamanya diam
2007
dikejar denyut hujan
aku kerap bertandang ke rumah daun
menjenguk dua mata mungil
yang selalu sembab-basah
mengapa musim ini begitu boros dengan hujan
mengurungku semaunya
aku dikejar denyut
hujan
2008
menunggu kering
kutuai segala kesah musim
bersijingkat di balik batang yang retak
aku guyur kau dengan embun subuh nan buta
sebelum daun-daun itu jatuh, ditinggalkan basah
memburu peluh januari
panasnya bersangatan
menyengat kita:
daun-daun yang menunggu kering
2008
kicau risau di ranting pinus
sebait lagi,
kutulis syair hening
di retina mata murai
berdendang
melalui isyarat yang kukulum
serata tubuh
mata itu berpindai bunga kembang seribu
dituba bias-bias kenang
rusuh
mengebat sulur-sulur kisah
di antara gagang markisah
yang merindangi tepian danau
berujar di ranting pinus
meningkahi hujan luruh
burung pengicau risau
saban pagi:
“alahan memanjang
tanahku,
menggelinjang tertahan di kulit
rengkah digulung dingin
maka, kutidurkan kau di dadaku”
2008
terbekap gagu
saban hari adalah debaran sajak
denyut rahasia
perih yang kujalin
sesobek lagi jadi senyum
sebelum lengkap disayat pisau
kata-kata yang tumpul
rikuh di hadap jaring-jaring derai nadir kebisuan
mengundangmu ke rona apel pipiku
membinar di bening putih mataku
aku jadi separuh ayan
bila rintih telah membekap kenang
pada jalan menuju pintu rumah
bingkai-bingkai lukisan hanya patung
menyaksikan persandingan letih
aku dan segala gagu
hanya bisa diam menjadi penyaksi
bias-bias khusyuk
di separo perjalanan menuju jiwa
yang sujud dimabuk asmara
pada malam yang acuh
maka, seperti ada yang tersembunyi
mesti disingkap
di balik bibir malam
tak tahu apa
seperti ada batu yang nyangkut
di salah satu aliran darah
kumuntahkan di atas tikar penampungan
duka
suatu pagi, tubuhku kejang-kejang
puisiku batal di sebuah kamar
sudahlah jangan dibahas lagi,
ia kan membawa kita ke ruang lain
dalam tubuh yang lain pula
tidak seperti rimba
hanya menelan mangsa di situ-situ juga,
kini ia ada di urat merih
2008
yang tersadai pada dermaga
pesan nenek:
sadaikan ia pada dermaga yang diingini
menunggu nasi masak
di tungku perasaian
tak tertahan dahaga
kita pagut semasih purba
berkali waktu,
pernah kita datangi lengkungan redup yang amis
bila-bila saja
teringat bunga rumput di rusuk batang air
kau rangkai
menjadi sekuntum lagu
sembari mengail tatapan
yang bergelinjangan di mata pancing
desau angin tua menyergap bilur-bilur nyiur
merontokkan puisi yang tertunda kukayuh
2008
sebuah adu tentang rumah penuh debu
segala gamang telan saja, tahun ini menyuguh begitu banyak kejut
orang-orang digerogoti virus yang sama
cinta, penyakit yang aneh
menjelma demikian buruk
apakah karena kita lupa
sesuatu yang bisa membutakan begitu saja?
ketergelinciran
akan dicatat dalam kotak hitam
tempat segala surga dan tragedi berlaku
tak jarang lompatan dilakukan penghuninya
juga justru membuat orang makin resah
kita tinggal di sini dipojokkan
juga akan diasingkan dari dunia
apa yang kita tuju?
para penghuni ini rumah ini
belum bisa menjawab
tidak bisa menganggap rumah jatuh cinta
di akhir tahun aku melompat ke halaman
ini bukan lagi rumah, tapi sarang para hantu
aku melangkah diam-diam dari kaca depan
sebab segalanya telah lusuh
atap bocor, dinding rengkah
rumah yang kupikir akan menjanjikan kedamaian
dari letih perjalanan, menyimpan bermacam kejam-bengis
segala pahit kuminum sendirian
aku tak bisa berdamai dengan senyum
kesah dari sebuah keterasingan
dengan segala rutuk dan kutuk
tentang rumah yang tak terurus
cerita-cerita indah yang didengungkan
ketika aku masih berada di pintu
sebuah keluarga
tanpa serahim-setubuh
bisakah?
seperti dongeng-dongeng saja
huruf-huruf genit yang setiap detik rindu ditulis
dalam bab-bab menyeramkan
2008
kepada sampan
aku mengasihi layar merah yang kau rentang di dadaku
deburan puisi yang batal
dermaga terasing
lapuk menunggu
sampai berlunau
selalu kau pesankan:
katakan pada kapal-kapal yang datang
aku menunggu sampan
yang kutandai dari riuh pelayaran
tadah yang sama
menunggu angin dan buih berkabar
perihal sampan yang sebentar lagi merapat ke dadaku
sekali saja
setelahnya, tak ada sadai lain
2008
igau perempuan siak
selamanyakah aku di balik kaca
perempuan payau membaca kepulangan
di tikungan penat
di gerigi jembatan
berpendar mengejar bayangan sajak
anak-anak
selamanyakah aku mendandani sunyi
serupa pengasingan ibu-ibu muda
di lapak-lapak sore
sayup angin berdesir pada dada lapuk
kisahkan senyum yang pernah berniat jadi hujan
“lakimu baru saja pulang berkuli
dari seberang malaka !”
berkemaslah aku dengan sejumput setia
menghisap aroma daun pandan
dari tubuh terpiuh peluh
isi rahim dengan janin lugu
sebentar lagi orang-orang melihatnya berkecimpung
ke badan siak
ke buih yang telah lama mengalirkan bangkai
seperti kapal-kapal bubar
ketika kaca retak
tak ada siapa-siapa di sana
september, 2007
malam mengusau carut di kota
malam mengusau, sedu-sedan para bunga dijajakan
kupu-kupu genit mengayuh langit untukmu
telanjang di kota kembang
carut marut percumbuan kelam
kerling nakal lelampu
sepanjang dekapan
bertebaranlah segala benih
kakimu masih tulang, dik
pada mata sembabmu aku titip riak
untuk waktu batu
tersebab engkau telah menjadi detak
di jantung-jantung kota
februari, 2007
rinai yang berdiam dalam angka-angka
dalam darah yang buncah
pada angin kemarin
pesawat-pesawat turun
memagut tanah
dan para kapal menyelam
di laut pelarian
perjalanan angka-angka
habis
di makan rinai
sepagi ini
desember 2006
karam di tepi
aku bukan pelaut
yang seketika terkesiap
melihat ciri badai
namun kugasak juga perahu ini
ke laut lepas yang setiap hari kau suguhkan
“melayari matamu
gelombangnya mengajakku karam
padahal masih di tepi,”
2007
aku di laut lain
aku hanya riak dari laut yang lain
sesekali meramaikan ombak
lalu
susup
agustus 2007
berbagi ladang
bisakah kita resapi luka waktu
bisu
ngilu
masuklah ke balik wajah samar
mengintip di jendela pondok
kebunnya ditindih kaki kota
sembunyi perih diam-diam
beku
sepi
benih kita
tak mungkin tumbuh
di sepetak tanah
miliknya
desember, 2006
aku masih serupa entah
serupa petani
aku masih menggarap sepetak ragu
serupa kumbang
mengharap sekotak madu
dalam seri musim semi
tanpa duri lagi
mengundang senyuman
serupa hati,
aku inginkan damai
terpanah
tenang
2007
perjalanan yang juga entah
I
pagi-pagi benar aku singgahi tepian
sekedar melepas penat malam
menjalari pagi berikutnya
jarum jam lepas detik payau
terbalik
II
sungguh,
perputaran ini
sedikit cuka, gula, dan garam
paduan ragi
semerbak bau risau digulai
III
dekat kabut hanya igau sebuah mimpi
tenggelam dalam zaman tak bertuan
coba meraba negeri entah
rengkuh peluk jengah
merapat ke dalam jarum jam
menyimpan detik patah-patah
sebegitu banyakkah jalan ke roma
di palung zaman ini?
2007
perihal telur
pada siapa kukatakan resah
aku merisau di musim kawin
mengerami lalu menetaskannya
“kandang tak kujung riuh”
juli, 2007
negeri dingin dekat dermaga (1)
lagi, aku terbenam pada mata air
pada akar-akar teh, batang tomat
daun lobak dan pucuk-pucuk markisah
remah-remah tanah mencabuli bulir-bulir peluh petani
setiap kali mengampaikan tubuh
bila mentari ajak bergelut
lalu, makan siang di tepi ladang
sembari menikmati lagu-lagu
yang berjuntaian di mata pacul
beberapa purnama lagi
mereka kan mengaraknya ke balai-balai
dingin
bukan salju
gelitik pori keriput dermaga
segala surga menyergap
sesekali aku terkepung rindu
februari 2007
negeri dingin dekat dermaga (2)
maka jadikanlah aku dermaga
di mana nelayan melempar sauh bila letih
bukan tempat rama dan sinta memadu kata
meski bukan di laut yang kau ceritakan
di tepian danau kecil,
arusnya mengalir ke laut jua
desember, 2007
negeri dingin dekat dermaga (3)
di tepi danau yang sama
aku masih dermaga lisut dililit dingin
membaca ayat-ayat subuh
di rundung rindu berlumut
pada riuhnya kapal-kapal
bepusingan
ini hanya puisi
bagi sampan
yang bersiap mengayuh dingin subuh
desember, 2007
gigil bibir dan secangkir kopi
tampunglah rentak hujan dari mataku
pagi ini lagi tumpah ke dalam secangkir kopi
minumlah,
barangkali bisa mendiamkan gigil bibirmu
bukan merapal yasin atau ayat-ayat sore
sebab aku ditakuti-takuti malam
teringat kedua tanganku tak lagi perawan
kala kau gasak jemarimu ke relungnya
kehilangan ini ngilu, tuan
desember, 2007
bulan demam dengan selimutnya
kehilangan ini ngilu
barangkali rela
tapi bila sebagai selimut dingin
di luar bulan mabuk mengintip
sebagai aku
tersudut
mengintip keriangan
dalam petikan gitar
demam panjang agustus kemarin
meninggalkan cibir
2007
amin yang belum terjawab
aku menunggu tuhan menjawab
segala amin
di kesepian
dalam sujud yang kucicil
bermalam
di bawah batu
kusimpul tali nabi
kurajut keranjang kerinduan
lalu aku pun menjadi penjaja doa
yang mabuk
ketika bulan duduk
di pucuk-pucuk dedap
desember, 2007
rumah sunyi di bawah gerimis
pada kata-kata yang muntah
tentang para laki rindu pulang
irama bunda merayunya
dalam kenang tak sudah-sudah
ku tatap segerombolan letih
menjadi hantu langkah
terkoyak
meruncing
ke sisa doa
rumah sunyi masih gerimis, sayang
di halau jejak petandang
ke serambi
sebagai badan yang juga kekeringan
kita gali segala mata air
lepaskan tangis terbengkalai
sembari menunggu
kepulangan lanang yang lain
pikirku, kita bisa mencicilnya bila mau
biar cuma sesisa
desember, 2007
selimut bagi dingin yang lain
selimuti aku
ketika nyanyian hujan menggerus atap peraduan
telah lama dingin
sejak kau menemukan selimut baru
di balik lipatan-lipatan pakaianku
tentu saja, ada sisa bau tubuhku di sana
mata kuyu
sembunyikan kesah kisah yang kita eja di pembaringan
igau letih meningkahi kecibak di sumur
pengantar tidur
serupa dendangan amak
meninanabobokan janinnya
kita kan berkelana sebentar ke dunia lelap
di dendang penghabisan, selimuti aku
sebab aku tak hanya ingin jadi selimut
pada dingin kali ini
seperti selimut-selimut dinginmu yang lain
2007
terpukau juga, aku
kau tanam cinta di rahim ibu
dalam cumbu yang sebentar
sepasang jemari
hilang
serupa bunglon dipukau warna
2007
rangkaian garis waktu ini makin susut
jalinan tahun dan bulan pun mengusut
demam demikian remuk
mengeja nama hari
berkali kali
aku tak pahami babak-babak ini, kekasih
aksara nasib kian kusut
aku pemain baru yang buta
mencuri tongkat
dari salah satu tulang di rusukmu
tetap saja mengayuh payah
rasa mau kupatahkan saja
desember 2007
kutanam hati di pemakaman
di pemakaman, kutanam hati dalam-dalam
bersama rindu yang kini dipendam
di bawah tanah galian
di parit batu
bilangan kehilangan menelisik helai-helai rambut
diguyur hujan sedemikian
selusin rusuh negri yang ngeri kucatat pada hujan
berjatuhan di sudut mendung
tak kan ada gaduh itu lagi
malam-malam beku
kopi hambar
roti tawar
lagu sumbang
rupa-rupa kehilangan senyum
keranda dibawa pulang
peziarah telah pula menyisakan jejak
gelombang yasin perlahan menepi
menyerah pada nisan yang selamanya diam
2007
dikejar denyut hujan
aku kerap bertandang ke rumah daun
menjenguk dua mata mungil
yang selalu sembab-basah
mengapa musim ini begitu boros dengan hujan
mengurungku semaunya
aku dikejar denyut
hujan
2008
menunggu kering
kutuai segala kesah musim
bersijingkat di balik batang yang retak
aku guyur kau dengan embun subuh nan buta
sebelum daun-daun itu jatuh, ditinggalkan basah
memburu peluh januari
panasnya bersangatan
menyengat kita:
daun-daun yang menunggu kering
2008
kicau risau di ranting pinus
sebait lagi,
kutulis syair hening
di retina mata murai
berdendang
melalui isyarat yang kukulum
serata tubuh
mata itu berpindai bunga kembang seribu
dituba bias-bias kenang
rusuh
mengebat sulur-sulur kisah
di antara gagang markisah
yang merindangi tepian danau
berujar di ranting pinus
meningkahi hujan luruh
burung pengicau risau
saban pagi:
“alahan memanjang
tanahku,
menggelinjang tertahan di kulit
rengkah digulung dingin
maka, kutidurkan kau di dadaku”
2008
terbekap gagu
saban hari adalah debaran sajak
denyut rahasia
perih yang kujalin
sesobek lagi jadi senyum
sebelum lengkap disayat pisau
kata-kata yang tumpul
rikuh di hadap jaring-jaring derai nadir kebisuan
mengundangmu ke rona apel pipiku
membinar di bening putih mataku
aku jadi separuh ayan
bila rintih telah membekap kenang
pada jalan menuju pintu rumah
bingkai-bingkai lukisan hanya patung
menyaksikan persandingan letih
aku dan segala gagu
hanya bisa diam menjadi penyaksi
bias-bias khusyuk
di separo perjalanan menuju jiwa
yang sujud dimabuk asmara
pada malam yang acuh
maka, seperti ada yang tersembunyi
mesti disingkap
di balik bibir malam
tak tahu apa
seperti ada batu yang nyangkut
di salah satu aliran darah
kumuntahkan di atas tikar penampungan
duka
suatu pagi, tubuhku kejang-kejang
puisiku batal di sebuah kamar
sudahlah jangan dibahas lagi,
ia kan membawa kita ke ruang lain
dalam tubuh yang lain pula
tidak seperti rimba
hanya menelan mangsa di situ-situ juga,
kini ia ada di urat merih
2008
yang tersadai pada dermaga
pesan nenek:
sadaikan ia pada dermaga yang diingini
menunggu nasi masak
di tungku perasaian
tak tertahan dahaga
kita pagut semasih purba
berkali waktu,
pernah kita datangi lengkungan redup yang amis
bila-bila saja
teringat bunga rumput di rusuk batang air
kau rangkai
menjadi sekuntum lagu
sembari mengail tatapan
yang bergelinjangan di mata pancing
desau angin tua menyergap bilur-bilur nyiur
merontokkan puisi yang tertunda kukayuh
2008
sebuah adu tentang rumah penuh debu
segala gamang telan saja, tahun ini menyuguh begitu banyak kejut
orang-orang digerogoti virus yang sama
cinta, penyakit yang aneh
menjelma demikian buruk
apakah karena kita lupa
sesuatu yang bisa membutakan begitu saja?
ketergelinciran
akan dicatat dalam kotak hitam
tempat segala surga dan tragedi berlaku
tak jarang lompatan dilakukan penghuninya
juga justru membuat orang makin resah
kita tinggal di sini dipojokkan
juga akan diasingkan dari dunia
apa yang kita tuju?
para penghuni ini rumah ini
belum bisa menjawab
tidak bisa menganggap rumah jatuh cinta
di akhir tahun aku melompat ke halaman
ini bukan lagi rumah, tapi sarang para hantu
aku melangkah diam-diam dari kaca depan
sebab segalanya telah lusuh
atap bocor, dinding rengkah
rumah yang kupikir akan menjanjikan kedamaian
dari letih perjalanan, menyimpan bermacam kejam-bengis
segala pahit kuminum sendirian
aku tak bisa berdamai dengan senyum
kesah dari sebuah keterasingan
dengan segala rutuk dan kutuk
tentang rumah yang tak terurus
cerita-cerita indah yang didengungkan
ketika aku masih berada di pintu
sebuah keluarga
tanpa serahim-setubuh
bisakah?
seperti dongeng-dongeng saja
huruf-huruf genit yang setiap detik rindu ditulis
dalam bab-bab menyeramkan
2008
kepada sampan
aku mengasihi layar merah yang kau rentang di dadaku
deburan puisi yang batal
dermaga terasing
lapuk menunggu
sampai berlunau
selalu kau pesankan:
katakan pada kapal-kapal yang datang
aku menunggu sampan
yang kutandai dari riuh pelayaran
tadah yang sama
menunggu angin dan buih berkabar
perihal sampan yang sebentar lagi merapat ke dadaku
sekali saja
setelahnya, tak ada sadai lain
2008
igau perempuan siak
selamanyakah aku di balik kaca
perempuan payau membaca kepulangan
di tikungan penat
di gerigi jembatan
berpendar mengejar bayangan sajak
anak-anak
selamanyakah aku mendandani sunyi
serupa pengasingan ibu-ibu muda
di lapak-lapak sore
sayup angin berdesir pada dada lapuk
kisahkan senyum yang pernah berniat jadi hujan
“lakimu baru saja pulang berkuli
dari seberang malaka !”
berkemaslah aku dengan sejumput setia
menghisap aroma daun pandan
dari tubuh terpiuh peluh
isi rahim dengan janin lugu
sebentar lagi orang-orang melihatnya berkecimpung
ke badan siak
ke buih yang telah lama mengalirkan bangkai
seperti kapal-kapal bubar
ketika kaca retak
tak ada siapa-siapa di sana
september, 2007
malam mengusau carut di kota
malam mengusau, sedu-sedan para bunga dijajakan
kupu-kupu genit mengayuh langit untukmu
telanjang di kota kembang
carut marut percumbuan kelam
kerling nakal lelampu
sepanjang dekapan
bertebaranlah segala benih
kakimu masih tulang, dik
pada mata sembabmu aku titip riak
untuk waktu batu
tersebab engkau telah menjadi detak
di jantung-jantung kota
februari, 2007
rinai yang berdiam dalam angka-angka
dalam darah yang buncah
pada angin kemarin
pesawat-pesawat turun
memagut tanah
dan para kapal menyelam
di laut pelarian
perjalanan angka-angka
habis
di makan rinai
sepagi ini
desember 2006
karam di tepi
aku bukan pelaut
yang seketika terkesiap
melihat ciri badai
namun kugasak juga perahu ini
ke laut lepas yang setiap hari kau suguhkan
“melayari matamu
gelombangnya mengajakku karam
padahal masih di tepi,”
2007
aku di laut lain
aku hanya riak dari laut yang lain
sesekali meramaikan ombak
lalu
susup
agustus 2007
berbagi ladang
bisakah kita resapi luka waktu
bisu
ngilu
masuklah ke balik wajah samar
mengintip di jendela pondok
kebunnya ditindih kaki kota
sembunyi perih diam-diam
beku
sepi
benih kita
tak mungkin tumbuh
di sepetak tanah
miliknya
desember, 2006
aku masih serupa entah
serupa petani
aku masih menggarap sepetak ragu
serupa kumbang
mengharap sekotak madu
dalam seri musim semi
tanpa duri lagi
mengundang senyuman
serupa hati,
aku inginkan damai
terpanah
tenang
2007
perjalanan yang juga entah
I
pagi-pagi benar aku singgahi tepian
sekedar melepas penat malam
menjalari pagi berikutnya
jarum jam lepas detik payau
terbalik
II
sungguh,
perputaran ini
sedikit cuka, gula, dan garam
paduan ragi
semerbak bau risau digulai
III
dekat kabut hanya igau sebuah mimpi
tenggelam dalam zaman tak bertuan
coba meraba negeri entah
rengkuh peluk jengah
merapat ke dalam jarum jam
menyimpan detik patah-patah
sebegitu banyakkah jalan ke roma
di palung zaman ini?
2007
perihal telur
pada siapa kukatakan resah
aku merisau di musim kawin
mengerami lalu menetaskannya
“kandang tak kujung riuh”
juli, 2007
negeri dingin dekat dermaga (1)
lagi, aku terbenam pada mata air
pada akar-akar teh, batang tomat
daun lobak dan pucuk-pucuk markisah
remah-remah tanah mencabuli bulir-bulir peluh petani
setiap kali mengampaikan tubuh
bila mentari ajak bergelut
lalu, makan siang di tepi ladang
sembari menikmati lagu-lagu
yang berjuntaian di mata pacul
beberapa purnama lagi
mereka kan mengaraknya ke balai-balai
dingin
bukan salju
gelitik pori keriput dermaga
segala surga menyergap
sesekali aku terkepung rindu
februari 2007
negeri dingin dekat dermaga (2)
maka jadikanlah aku dermaga
di mana nelayan melempar sauh bila letih
bukan tempat rama dan sinta memadu kata
meski bukan di laut yang kau ceritakan
di tepian danau kecil,
arusnya mengalir ke laut jua
desember, 2007
negeri dingin dekat dermaga (3)
di tepi danau yang sama
aku masih dermaga lisut dililit dingin
membaca ayat-ayat subuh
di rundung rindu berlumut
pada riuhnya kapal-kapal
bepusingan
ini hanya puisi
bagi sampan
yang bersiap mengayuh dingin subuh
desember, 2007
gigil bibir dan secangkir kopi
tampunglah rentak hujan dari mataku
pagi ini lagi tumpah ke dalam secangkir kopi
minumlah,
barangkali bisa mendiamkan gigil bibirmu
bukan merapal yasin atau ayat-ayat sore
sebab aku ditakuti-takuti malam
teringat kedua tanganku tak lagi perawan
kala kau gasak jemarimu ke relungnya
kehilangan ini ngilu, tuan
desember, 2007
bulan demam dengan selimutnya
kehilangan ini ngilu
barangkali rela
tapi bila sebagai selimut dingin
di luar bulan mabuk mengintip
sebagai aku
tersudut
mengintip keriangan
dalam petikan gitar
demam panjang agustus kemarin
meninggalkan cibir
2007
amin yang belum terjawab
aku menunggu tuhan menjawab
segala amin
di kesepian
dalam sujud yang kucicil
bermalam
di bawah batu
kusimpul tali nabi
kurajut keranjang kerinduan
lalu aku pun menjadi penjaja doa
yang mabuk
ketika bulan duduk
di pucuk-pucuk dedap
desember, 2007
rumah sunyi di bawah gerimis
pada kata-kata yang muntah
tentang para laki rindu pulang
irama bunda merayunya
dalam kenang tak sudah-sudah
ku tatap segerombolan letih
menjadi hantu langkah
terkoyak
meruncing
ke sisa doa
rumah sunyi masih gerimis, sayang
di halau jejak petandang
ke serambi
sebagai badan yang juga kekeringan
kita gali segala mata air
lepaskan tangis terbengkalai
sembari menunggu
kepulangan lanang yang lain
pikirku, kita bisa mencicilnya bila mau
biar cuma sesisa
desember, 2007
selimut bagi dingin yang lain
selimuti aku
ketika nyanyian hujan menggerus atap peraduan
telah lama dingin
sejak kau menemukan selimut baru
di balik lipatan-lipatan pakaianku
tentu saja, ada sisa bau tubuhku di sana
mata kuyu
sembunyikan kesah kisah yang kita eja di pembaringan
igau letih meningkahi kecibak di sumur
pengantar tidur
serupa dendangan amak
meninanabobokan janinnya
kita kan berkelana sebentar ke dunia lelap
di dendang penghabisan, selimuti aku
sebab aku tak hanya ingin jadi selimut
pada dingin kali ini
seperti selimut-selimut dinginmu yang lain
2007
terpukau juga, aku
kau tanam cinta di rahim ibu
dalam cumbu yang sebentar
sepasang jemari
hilang
serupa bunglon dipukau warna
2007
Langgan:
Entri (Atom)